AHLAN WA SAHLAN

Kamis, 16 Februari 2017

Syariat Islam Meneropong V-Day

Syariat Islam Meneropong V-Day



Oleh : Ustadz Luky B Rouf
Creative Writer
Inspirator #YukMoveOn | Pengkader Pendakwah Ideologis
Publishing Manager Al Azhar Press
Kontributor Tabloid Mediua Umat, dakwahremaja.com
Owner D’Walimah Organizer Pernikahan Islami
Chief Operational Officer MoveON Inspiration

Hajatan  V-Day,  ibarat  sekam  yang  siap  menyala  dan  membakar  apapun  yang  ada  di sekitarnya.  Dari  luar  memang  tidak  mengundang  bahaya  high  class,  tapi  ibarat  diamnya gunung berapi, V-Day bakal suatu saat meledak dan membuat geger, siapa saja yang ada didekatnya.  Sangat  berbahaya.  Tak  mustahil  bagi  generasi  muda  yang  masih  labil,  akan termakan dan tergoda rayuannya, kemudian mengadopsinya sebagai gaya gaul remaja yang lagi  in. Nggak peduli budaya V-Day ini bertentangan dengan Islam sebagai way of life-nya. Padahal berabad-abad yang lalu Allah swt sudah mengingatkan kepada kita dengan firmanNya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,  penglihatan,  dan  hati,  semuanya  akan  dimintai  pertanggungjawabannya.”  (QS:  Al Isra’: 36).

Apalagi budaya tersebut memang berasal dari aqidah sekular milik orang Barat. Firman Allah  swt:  “...dan  sesungguhnya  jika  kamu  mengikuti  keinginan  mereka  setelah  datang  ilmu kepadamu (keterangan-keterangan), sesungguhnya kamu kalau demikian termasuk golongan orangorang dholim.” (QS: Al Baqarah: 145).

Ada  suatu  kaidah  syar’iyah  yang  berbunyi:  “Asal  (pokok/dasar)  perbuatan  adalah  terkait (terikat) dengan hukum-hukum Islam.” Termasuk dalam berkasih sayang versi V-Day ini, wajib tahu  hukumnya.  Biar  kita  tidak  nyesel  seumur  hidup.  V-Day  yang  mengusung  kemasan ‘kasih  sayang’  memang  telah  berhasil  memalingkan  dari  kasih  sayang  yang  suci  dalam pandangan Islam. Kasih sayang yang dimuat V-Day itu bernuansa kebebasan bergaul.  Dan ini  jelas  sangat  berbahaya.  Karena  konsekuensi  dari  masalah  ini  adalah  halal  atau  haram alias pahala dan dosa.

V-Day sengaja digelar  untuk mencuci pemikiran generasi muda Islam. Paling tidak ide kebebasan  bertingkah  laku  alias  hurriyatus  syakhshiyyah  yang  telah  menjadi  tren  bagi generasi  muda. Gaul  bebas  dengan lawan jenis bukan hal  yang  tabu  lagi.  Malah  bisa jadi sebagai sebuah keharusan yang tak bisa ditolelir lagi. Kayaknya sudah seperti hidup atau mati urusannya. Berbahaya memang. Kemasan V-Day memang mampu menyihir siapa saja yang kendor imannya.

Sebagai seorang remaja muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu saja kita tidak  layak  mengikuti  budaya  yang  tak  jelas  jluntrungannya.  Terlebih  V-Day  ini  adalah produk peradaban Barat yang sekuler—yang memisahkan antara agama dengan kehidupan. V-Day  hanya  sebuah  sarana  dari  sekian  banyak  sarana  peradaban  Barat  yang  notabene terbilang  maju.  V-Day  adalah  sebagai  alat  penjajahan  Barat.  Paling  tidak  dari  sisi  budaya dan gaya hidup. Ada baiknya kita merenungkan pernyataan sosiolog muslim yang terkenal, yakni Ibnu Khaldun.: “Yang kalah cenderung mengekor yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini  adalah  mengikuti  adat  istiadat  mereka,  bidang  seni;  seperti  seni  lukis  dan  seni  pahat  (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.” 

V-Day  telah  memakan  banyak  korban,  khususnya  remaja.  Kita  tertipu  di  balik gemerlapnya V-Day yang telah menikam perasaan dan pikiran sehat kita. Dan kita menjadi liar  dalam  mewujudkan  kasih  sayang.  Hati-hati,  jangan  sampai  celaan  Nabi  kita dialamatkan  kepada  kita  melalui  sabdanya:  “Siapa  saja  yang  menyerupai  suatu  kaum  (gaya hidup  dan  adat  istiadatnya),  maka  mereka  termasuk  golongan  tersebut.”  (HR.  Abu  Daud  dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar).

Hajatan  V-Day  itu  ternyata  merayakan  peringatan  yang  bukan  berasal  dari  Islam. Rasulullah  saw,  orang  yang  paling  mulia  dengan  tegas  memperingatkan  kita  agar  jangan mengikuti pola hidup (budaya) kaum atau bangsa lain, sebagaimana sabdanya: “Tidak akan terjadi  kiamat  sebelum  umatku  menerima  (mengikuti)  apa-apa  yang  dilakukan  oleh  bangsa-bangsa terdahulu (pada masa silam), selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta.” Di antara sahabat ada yang  bertanya:  “(Ya  Rasulullah)  apakah  yang  dimaksud  (di  sini)  seperti  bangsa  Persia  dan Romawi?” Rasulullah saw  menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)”  (HR. Bukhori, dari Abu Hurairah).

Makanya, benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab bahwa al ilmu qobla al amal, artinya bahwa ilmu itu  musti ada sebelum perbuatan. Dengan demikian, sebelum kita tahu status  hukum  suatu  perbuatan,  tidak  boleh  melakukan  perbuatan  tersebut.  Jadi,  segala sesuatunya  harus  jelas. Tidak  boleh  samar,  dan  harus  tahu  status  hukum  perbuatan  yang bersangkutan.

Untuk  itu  kita  perlu  secara  jelas  mengklasifikasikan,  dimana  sebenarnya  letak ketidakbolehan kita sebagai muslim melaksanakan ritual V-Day:

1- Menyerupai orang kafir
Imam  Ibn  Hajar  al-Asqalani  telah  mengumpulkan  perbuatan-perbuatan  dan  kebiasaan Rasulullah  yang  secara  sengaja  membedakan  diri  kita  sebagai  muslim  dengan  orangorang  kafir  (yahudi, nasrani,  majusi)  hingga  berjumlah  sekitar  30  macam.  Semuanya dikumpulkan  dalam  kitabnya secara  khusus,  yang  berjudul,  Al-Qawli  ats-Tsâbit  fi  ashShawmi Yawmu as-Sabt.Perbuatan  atau  kebiasaan  apa  saja  yang  berasal  dari  kebiasaan-kebiasaan  orang-orang kafir,  yang  terpengaruh  oleh  ideology  atawa  ajaran  agama  ataupun  pemikiran  mereka, tidak  boleh  diikuti  dan  ditiru-tiru  kaum  Muslim.  Sebab,  Rasulullah  saw.  telah memberikan kepada kita peringatan hanya pada dua hari saja, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Selebihnya tidak.Di  samping  itu,  secara  tegas  Rasulullah  saw.  mengelompokkan  kaum  Muslim  yang mengikuti  perayaan  dan  kebiasaan  orang-orang  kafir  sama  seperti  mereka  dan  tidak termasuk golongan Rasul (kaum Muslim). Rasulullah saw. bersabda :


Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, ia termasuk golongan mereka.    (HR Abu Daud dan
Ahmad).


Tidak  termasuk  golonganku  orang-orang  yang  menyerupai  selain  golonganku.  (HR  atTirmidzi).

Maka  sangat  jelas,  kita kagak  boleh  tashabuh  alias  menyerupai,  meniru-niru  cara  hidup orang kafir yang lahir dari pandangan hidupnya. Ingat Ya! Pandangan hidup (view of life) atau  hadlarah. Sudah seharusnya kita tinggalkan semua budaya,  hadlarah  kufur termasuk perayaan V-Day.

Di  sisi  lain,  Nabi  mengatakan  bahwa,  ”Barangsiapa  melakukan  amal  yang  tiada  didasari perintahku (Quran dan Sunnah), maka amal perbuatannya tertolak” (HR. Ahmad).

Sangat  jelas,  sejelas  matahari  di  siang  bolong  bahwa  ikut  merayakan  hari  valentine adalah  tindakan  yang  dilarang  oleh  Islam  dan  haram  bagi  kaum  muslimin  untuk merayakan. Valentine sendiri akar kemunculannya dari orang kafir (Romawi Kuno), dan Barat (Nasrani), maka sudah sepatutnya seorang muslim meninggalkan hal tersebut.

Syaikhul  Islam  Ibnu  Taimiyyah  Ad-Dimasyqiy-rahimahullah-  berkata,  "Tak  ada  bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya, dan mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (metode beragama),  karena  mencocoki  mereka  dalam  seluruh  hari  raya  berarti  mencocoki  mereka  dalam kekufuran. Mencocoki mereka dalam sebagaian hari raya berarti mencocoki mereka dalam sebagian cabang-cabang  kekufuran.  Bahkan  hari  raya  adalah  ciri  khas  yang  paling  khusus  di  antara syari’at-syari’at (agama-agama), dan syi’ar yang paling nampak baginya. Maka mencocoki mereka dalam hari raya berarti mencocoki mereka dalam syari’at kekufuran yang paling khusus, dan syi’ar yang  paling  nampak.  Tak  ragu  lagi  bahwa  mencocoki  mereka  dalam  hal  ini  terkadang  berakhir kepada kekufuran secara global".(Lihat Al-Iqtidho’ hal.186)

Maka  sangat  benar  apa  yang  disabdakan  oleh  Nabi  Saw  dalam  sebuah  hadits  shohih, "Kalian  akan  benar-benar  mengikuti  jalan  hidup  orang-orang  sebelum  kalian,  sejengkal  demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki  lubang biawak, maka kalian pun mengikuti  mereka".  Kami  (para  sahabat)  bertanya,  "Wahai  Rasulullah,  apakah  mereka  adalah orang-orang Yahudi, dan Nashrani". Beliau menjawab, "Siapa lagi kalau bukan mereka".  (HR. Al-Bukhoriy dari Abu Sa’id Al-Khudriy)

Rasulullah Saw, juga bersabda,  “Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak” (HR. Al-Bukhariy dan Muslim)

“Barangsiapa  yang  mengerjakan  suatu  amalan  yang  tidak  ada  tuntunannya  dari  kami,  maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Muslim)

“Tapi, kita khan cuma kebetulan atawa cuman insident (bukan merk pasta gigi lho) aja ikutan valentine’s day. Kita nggak meyakini apalagi mengimani sejarahnya”. Ya, OK kalo kamu  ngomong  gitu  sih.  Tapi  yang  jadi  soal  adalah  riil  perbuatan  kamu.  Rasulullah pernah  bersabda  “nahnu  nakum  bi  dhohir”  artinya:  kami  menghukumi  kalian  apa  yang (nyata)  kelihatan”.  Jadi  kalo  kamu  secara  riil  ngikutin  akvitas  ber-V-Day  ria,  maka perbuatan itulah yang bakal dihukumi.

Memang  tidak  ada  secara  langsung  ayat  atau  hadits  menjelaskan  kesalahan  atau kebobrokan  V-Day,  tapi  Allah  dan  Rasul-Nya  melarang  suatu  perbuatan  tidak  harus diperinci  atau  dijelaskan  satu  per  satu  perbuatan  yang  terkategori  terlarang,  cukup dengan makna tersirat atau ekplisit disampaikan dalam Al-Qur'an dan Hadits. Larangan merayakan  V-Day  terkategori  dalam  firman  Allah  dan  sabda  Rasul-Nya  seperti disebutkan diatas.

Jika  kamu  mafhum  (paham)  dengan  hadits-hadits  diatas,  maka  sudah  barang  tentu konsekuensi  dari  pemahaman  adalah  meninggalkan  segala  aktivitas  yang  termasuk dalam larangan meniru atau menyerupai orang kafir (tasabuh). Tanpa bertanya lagi apa manfaat  (maslahat)  dari  meninggalkan  larangan  itu,  sebab  Allah  Maha  Mengetahui termasuk tentang kemanfaatan dari syariat yang dibuat-Nya.

So, tidaklah umat Islam kalau kamu masih merayakan V-Day, meski kamu sholat sampai jidat  kamu  hitem,  meski  kamu  puasa  sampai  badan  kamu  lunglit  (balung-kulit)  kalau kamu  masih  merayakan  V-Day  sama  halnya  dengan  mengisi  air  di  tong  yang  bocor,
hasilnya? Nol. Sebab acara ritual itu berasal dari umat yang Aqidahnya rusak seperti di ceritakan di atas, kalau kita mengikutinya sama rusaknyalah kita dengan mereka, sama bodolah  kita  dengan  mereka,  sama  jahilnya  kita  dengan  mereka.  Lalu  dimanakah kemuliaan  Islam  itu,  kalau  Allah  mengatakan  dalam  firman-Nya  :  “Sesungguhnya  dien (agama)  yang  diridhloi  oleh  Allah  hanya  Islam"  (QS.  ali-Imron  19)  atau  Sabda  Rasulullah Saw. :  "Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya" (HR. Muslim)

2- Menghantarkan perzinaan

Aktivitas  merayakan  V-Day  nggak  usah  ditutup-tutupi  udah  pasti  berbau  pergaulan bebas.  Nggak  usah  divonis,  semua  orang  juga  tahu  (malaikat  juga  tahu)  kalo  yang namanya V-Day identik dengan akvitas hura-hura. Laki-perempuan campur aduk, persis es  cendol,  nggak  pake  hijab  (emangnya  pengajian),  trus  yang  punya  pacar  mojok  ama pacarnya, entah di café, di mall, resto atau bahkan berduaan di hotel. Wah, alamat kalo mereka udah berani berduaan berarti zina yang sesunguhnya bakal terjadi.

Padahal sudah sangat jelas bahwa hukum asal kaum wanita dan laki-laki adalah terpisah sebelum  ada  dalil  atau  keperluan  syar’i  yang  menuntut  keduanya  bertemu,  misalnya berdagang,  bekerja,  beribadah,  haji,  sholat,  menikah  dll.  Itupun  mereka  harus memperhatikan  syarat-syarat  pergaulan  atau  akhlak  wanita  berhubungan  dengan  lakilaki,  menutup  aurat  dengan  menegenakan  kerudung  dan  jilbab,  tidak  berdandan berlebihan, dll.

Allah  SWT  berfirman:  "Dan  janganlah  kamu  mendekati  zina;  Sesungguhnya  zina  itu  adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk".  (QS. Al-Isra’ : 32). Dalam melarang zina, Allah sudah memperingatkan kita agar jangan mendekati yang mengantarkan zina seperti pacaran, berduaan, berpegangan, berpelukan (kayak teletubbies) atau yang biasa disebut KNPI (kissing, necking, petting, dan intercouse).

Rasulullah Saw, juga bersabda,  "Jangan sekali-sekali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram". (HR. Al-Bukhoriy dan Muslim)

Rasulullah Saw bersabda: 
"Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya". (HR. Ath-Thabrani)

Wuih  ngeri  banget  ya,  sampe  ditusuk  jarum  besi  kepalanya,  hiii.  Andai  saja  para penikmat  pacaran  itu  tahu  dan  paham  hadits  ini.  Tapi  sayang,  cinta  yang  sebenarnya anugerah  suci  dari  Allah  SWT,  sudah  diidentikkan  dengan  pacaran.  Dan  pacaran  juga sudah jadi barang wajib bagi remaja. Terlepas apa tujuan mereka berpacaran. Mungkin ada  yang  bilang  kalo  tujuan  mereka  pacaran  adalah  untuk  saling  mengenal  sebelum memang  yakin  untuk  married.  Sepintas  mulia  banget  tujuan  itu,  tapi  pada  tingkatan tertentu dan beberapa kasus dua insan berlainan jenis itu ketika memadu kasih, nggak bisa menahan diri. Lalu, kemana kemudian ‘tujuan mulia’ tadi?

“Itu khan kasuistik, nggak bisa dijadikan alasan untuk melarang pacaran”. Mungkin ada yang bilang  seperti  itu.  Sobat,  kita  perlu  ingatkan  bahwa  apa  yang  sedang  kamu  lakukan ketika berpacaran adalah pemenuhan dari naluri (gharizah). Sementara ciri dari  gharizahitu  adalah  terangsang.  Nggak  peduli  siapapun  orangnya.  Nah,  ibarat  kucing  nemuin mangsanya, ketika naluri itu menemukan pelampiasan, maka otomatis, refleksitas untuk menyatakan  cinta,  berpegangan,  berpelukan  itu  pun  terjadi.  Makanya  Islam  khan mewanti-wanti supaya kita jangan mendekati zina (lihat QS al-Isra 32).

Sebab sudah jadi hal yang jamak, karena hubungan pacaran yang terlalu bebas, dua insan yang dimabuk cinta, saat hawa nafsu telah membius mereka, maka zina bisa  aja terjadi. Dan kalo kita mau berpikir lebih dalam lagi, konsekuensi dari berbuat zina sangat berat baik beban mental, psikis maupun fisik.

Gimana  nggak?  Bagi  seorang  gadis  yang  hamil  di  luar  nikah  karena  zina,  seringkali menyisakan  rasa  malu  yang  begitu  dalam.  Gara-gara  hamil  di  luar  nikah,  sekolah terpaksa drop out. Dan semua orang udah tahu, kalo dia sudah nggak virgin lagi. Duh, malunya  minta  maaf  (sorry,  bosen  pake  kata,  ampun).  Tambah  lebih  malu  lagi  plus gondok,  kalo  sang  pacar  ternyata  nggak  mau  mengakui  alias  nggak  mau  bertanggung jawab  atas  perbuatannya.  Waduh,  mau  ditaruh  dimana  tuh  pantat…ehh  maksudnya muka.  Kalo  begini  jadinya,  seakan  suram  sudah  masa  depannya.  Memang  penyesalan selalu  datang  terlambat.  Nggak  pernah  kapok  apa  ya  yang  namanya  ‘penyesalan’? Padahal kalo terlambat, pasti dapat hukuman …..lhoo..lho..koq gak nyambung.. tettt..!

Belum lagi kalo kelak anaknya lahir ke dunia. Pasti tetangga sebelah akan bilang ‘anak haram’.  Padahal  yang  haram  perbuatan  orang  tuanya  yang  telah  berzina.  Sungguh  ini suatu  aib  yang  sulit  untuk  ditutupi.  Bagi  yang  nggak  kuat,  bisa  mengakhiri  hidupnya, gantung diri di pohon tomat…hee..hee.

Bagi orang tua yang nekad dan nggak tahu dosa, pilihannya adalah mengaborsi si jabang bayi dalam kandungannya itu. Tapi nggak jarang juga, begitu anaknya lahir, seringkali ia hanya dibuang begitu saja, seperti sampah yang tak berharga. Itu artinya, dosa baru telah tercipta, karena mengakhiri sebuah nyawa yang tak berdosa.

Begitulah,  zina  ternyata  tidak  henti-hentinya  membikin  runtutan  dosa  lainnya.  Belum lagi,  ternyata  zina  juga  dapat  menyemai  permusuhan  dan  menyalakan  api  dendam antara  keluarga  wanita  dengan  lelaki  yang  telah  berzina  dengannya.  Baik  diantara mereka masing-masing memang sebelumnya bujangan, ataukah sebenarnya mereka ada yang sudah punya keluarga. Puihhh… parah jadinya.

Kalo  si  cewek  yang  berzina  trus  hamil  dan  untuk  menutupi  aibnya  ia  mengugurkan kandungannya  itu,  maka  dia  telah berzina  dan juga  telah  membunuh jiwa  yang  nggak berdosa.  Tapi  kalo  dia  adalah  seorang  wanita  yang  telah  bersuami  dan  melakukan perselingkuhan  sehingga  dia  hamil,  dan  membiarkan  anak  itu  lahir  maka  dia  telah memasukkan orang asing dalam keluarganya dan keluarga suaminya sehingga anak itu mendapat hak warisan mereka tanpa disadari siapa  dia sebenarnya. Amat mengerikan, naudzubillah min dzalik.

Ini peringatan bagi para pelaku pacaran yang otomatis telah berzina. Maka sebenarnya dia  telah  mengorbankan  kebahagian  masa  depannya.  Masa  depan  pernikahan  yang harusnya dilalui dengan keindahan, karena bertemu calon suami atau isteri yang masih virgin,  menjadi  sangat  buram.  Karena  kita  tidak  bisa  memberikan  keperawanan  dan keperjakaan  tangan  kita,  leher  kita,  (apapun  yang  pernah  dijamah  dan  menjamah  oleh dan  untuk  pacar  kita)  kepada  pasangan  kita  kelak.  Kenikmatan  ‘malam  pertama’  yang indah  dan  penuh  kejutan  sudah  nggak  ada.  Karena  semua  sudah  dirasakan  sebelum menikah dengan pacar pertamanya yang belum tentu jadi suaminya. Kalo pun toh pacar itu emang jadi suaminya, maka keduanya terjerambab pada kejenuhan, penyesalan dan keterpaksaan.  Bisa  jadi  salah  satunya  timbul  rasa  tidak  percaya  pada  pasangannya, karena menurutnya kalo di masa pacaran dulu, mudah dirayu untuk diajak zina, berarti bisa jadi ketika sudah menikah, nggak menutup kemungkinan, diajak selingkuh dengan PIL atau WIL pun Ok.

Itulah  zina  yang  telah  mengenyahkan  harga  diri  para  pelakunya,  merusak  masa depannya, dan juga meninggalkan aib yang berpanjangan bukan saja kepada pelakunya tapi  kepada  seluruh  keluarganya.  Jadi  masihkah  kita  mendekati  zina?  Atau  sebaliknya maukah  kita  menjaga  keluarga  kita  dari ancaman  zina  yang  membius dan  mengancam dari berbagai pihak? Semoga kita selalu diberi hidayah untuk selalu berada di jalan yang lurus. Amin

3- Percaya Dengan Paganisme

Ibnul Qayyim rahimulloh berkata :
"Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan  tersebut  haram.  Semisal  memberi  selamat  atas  hari  raya  dan  puasa  mereka,  dengan mengucapkan, "Selamat hari raya!" dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai  pada  kekafiran,  paling  tidak  itu  merupakan  perbuatan  haram.  Berarti  ia  telah  memberi selamat  atas  perbuatan  mereka  yang  menyembah  salib.  Bahkan  perbuatan  tersebut  lebih  besar dosanya  di  sisi  Allah  dan  lebih  dimurkai  dari  pada  memberi  selamat  atas  perbuatan  minum khamar  atau  membunuh.  Banyak  orang  yang  kurang  mengerti  agama  terjerumus  dalam  suatu perbuatan  tanpa  menyadari  buruknya  perbuatan  tersebut.  Seperti  orang  yang  memberi  selamat kepada orang lain atas perbuatan  maksiat, bid'ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah."

V-Day  dipercayai  sebagai  ritual  yang  dilakukan  oleh  para  penyembah  berhala  Juno  di jaman  Romawi  Kuno.  Dalam  khazanah  Islam,  perbuatan  seperti  itu  terkategori  syirik alias  menduakan Allah SWT  sebagai  satu-satunya  sesembahan  yang  wajib  kita  sembah dan kita ibadahi.

Upacara  V-Day  di  masa  kuno,  udah  dijelaskan  secara  gamblang  di  bab  sebelumnya, tolong dibaca lagi ya! Meskipun sebenarnya banyak versi juga tentang cerita Valentine. Tapi  semua  orang  sepakat,  pun  orang  Nasrani  khususnya  pihak  gereja  yang  akhirnya menjadikan upacara Romawi Kuno itu sebagai bagian dari ritual gereja yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.

Rasulullah SAW. sudah mengingatkan kita melalui sabdanya:  Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah  yang  engkau   maksudkan  itu  adalah  orang-orang  Yahudi  dan  orang-orang  Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi? (HR Bukhari Muslim)

Lagian, harus ditambahkan bahwa boleh tidaknya seorang muslim melakukan sesuatu, tidaklah dilihat apakah sesuatu itu berasal dari tradisi atau ataukah dari agama. Seakanakan  kalo  berasal  dari  tradisi, masih  boleh  kita  merayakannya,  sementara  kalo  dari agama lain hukumnya nggak boleh.

Bukan seperti itu. Itu standar yang batil dan tidak ada dalam Islam. Karena standar yang benar menurut Islam, adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman :

"Ikutilah  apa  yang  diturunkan  kepadamu  dari  Tuhanmu  dan  janganlah  kamu  mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya." (QS Al-A’raaf 3)

Kalimat  "maa  unzila  ilaykum  min  rabbikum"  dalam  ayat  di  atas  yang  berarti  "apa  yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu",  artinya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Tafsir AlBaidhawi, [Beirut : Dar Shaadir], Juz III/2).
Jadi  suatu  perbuatan  itu  boleh  atau  nggak  untuk  dilakukan,  tolok  ukurnya  adalah  AlQur`an dan As-Sunnah. Apa saja yang benar menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti boleh  dikerjakan.  Sebaliknya  apa  saja  yang  batil  menurut  Al-Qur`an  dan  As-Sunnah, berarti tidak boleh dilakukan.

Sungguh kalo seorang muslim menggunakan tolok ukur melihat sesuatu itu dari tradisi atau  agama,  ia  akan  tersesat.  Sebab  suatu  tradisi  nggak  selalu  benar,  adakalanya  ia bertentangan  dengan  Islam  dan  adakalanya  sesuai  dengan  Islam.  Contohnya,  free  sekspada  masyarakat  Barat  yang  Kristen.  Free  seks  jelas  telah  menjadi  tradisi  Barat,  meski perbuatan  kotor  itu  bukan  bagian  agama  Kristen/Katholik,  karena  agama  ini  pun mengharamkan  zina.  Lalu,  apa  karena  alasan  free  seks  itu  sekedar  tradisi,  dan  bukan agama, lalu umat Islam boleh melakukannya? Jelas tetap kagak boleh, khan?

Berdasarkan  dalil-dalil  Al-Qur`an  dan  As-Sunnah,  haram  hukumnya  seorang  muslim turut  merayakan  hari  raya  agama  lain,  termasuk  V-Day,  baik  dengan  mengikuti  ritual agamanya maupun tidak, termasuk juga memberi ucapan selamat. Semuanya haram. 

Imam  Suyuthi  berkata,"Juga  termasuk  perbuatan  mungkar,  yaitu  turut  serta  merayakan  hari raya orang Yahudi, hari raya orang-orang kafir, hari raya selain orang Arab [yang tidak Islami], ataupun  hari  raya  orang-orang  Arab  yang  tersesat.  Orang  muslim  tidak  boleh  melakukan perbuatan itu, sebab hal itu akan membawa mereka ke jurang kemungkaran..."  (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91).

Khusus  mengenai  memberi  ucapan  selamat,  Imam  Ibnu  Qayyim  Al-Jauziyyah berkata,"Adapun memberi ucapan  selamat yang terkait syiar-syiar kekufuran yang menjadi ciri khas kaum kafir, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama, misalnya memberi selamat atas hari  raya  atau  puasa  mereka..."  (Ahkam  Ahli  Adz-Dzimmah,  [Beirut  :  Darul  Kutub  Al-’Ilmiyah], 1995, Juz I/162).

Dalil  Al-Qur`an  yang  mengharamkan  perbuatan  muslim  merayakan  hari  raya  agama kafir di antaranya firman Allah SWT :

"Dan (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah) orang-orang yang tidak menghadiri kebohongan..." (QS Al-Furqan 72).

Kalimat  "laa  yasyhaduuna  az-zuur"  dalam  ayat  tersebut  menurut  Imam  Ibnu  Taimiyah maknanya yang tepat adalah tidak menghadiri kebohongan (az-zuur), bukan memberikan kesaksian  palsu.  Dalam  bahasa  Arab,  memberi  kesaksian  palsu  diungkapkan  dengan kalimat  yasyhaduuna  bi  az-zuur.  Jadi  ada  tambahan  huruf  jar  yang  dibaca  bi.  Bukan diungkapkan  dengan  kalimat  yasyhaduuna  az-zuur  (tanpa  huruf  jar  bi).  Maka  ayat  di atas  yang  berbunyi  "laa  yasyhaduuna  az-zuur"  artinya  yang  lebih  tepat  adalah  "  tidak menghadiri  kebohongan",  bukannya  "  memberikan  kesaksian  palsu."  (M. Bin  Ali  AdhDhabi’i, Mukhtarat min Kitab Iqtidha` Shirathal Mustaqim  Mukhalafati Ash-habil Jahim (terj.), hal. 59-60)

Sedang  kata  "az-zuur"  (kebohongan)  itu  sendiri  oleh  sebagian  tabi’in  seperti  Mujahid, adh-Dhahak, Rabi’ bin Anas, dan Ikrimah artinya adalah hari-hari besar kaum musyrik atau kaum jahiliyah sebelum Islam (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91-95).

Jadi, ayat di atas adalah dalil haramnya seorang muslim untuk merayakan hari-hari raya agama lain, seperti hari Natal, Waisak, Paskah, Valentine’s Day, Imlek, dan sebagainya.

Imam  Suyuthi  berdalil dengan  dua  ayat  lain sebagai  dasar  pengharaman  muslim  turut merayakan hari raya agama lain (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92). Salah satunya adalah ayat :

"Dan sesungguhnya jika kamu [Muhammad] mengikuti keinginan mereka setelah datangnya ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim."  (QS Al-Baqarah 145).

Menurut  Imam  Suyuthi,  larangan  pada  ayat  di  atas  tidak  hanya  khusus  kepada  Nabi Saw, tapi juga mencakup umat Islam secara umum. Larangan tersebut adalah larangan melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh atau orang kafir  (seperti  turut  merayakan  hari  raya  mereka).  Sedangkan  yang  mereka  lakukan bukanlah perbuatan yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan dalil As-Sunnah, antara lain Hadits Nabi SAW,"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka." (HR Abu Dawud).

Dalam  hadits  ini  Islam  telah  mengharamkan  muslim  untuk  menyerupakan  dirinya dengan kaum kafir pada hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, seperti harihari  raya  mereka.  Maka  dari itu,  haram  hukumnya  seorang  muslim  turut  merayakan hari-hari  raya  agama  lain  (Lihat  Syaikh  Abdul  Aziz  bin  Abdullah  bin  Baz,  Penjelasan Tuntas Hukum Seputar Perayaan, [Solo : Pustaka Al-Ummat], 2006, hal. 76).

So, berdasarkan dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas, maka haram hukumnya seorang muslim  turut  merayakan  V-Day  dalam  segala  bentuk  dan  manifestasinya.  Haram  bagi muslim  ikut-ikutan  mengucapkan  Happy  Valentine  kepada  siapa  saja.  Haram  pula baginya mengadakan berbagai macam pertunjukan untuk merayakan V-Day, seperti live band, kirim kado, dan sebagainya. Semua  bentuk  perbuatan  tersebut  haram  dilakukan  oleh  muslim,  karena  termasuk perbuatan merayakan hari raya agama kafir yang telah diharamkan Al-Qur`an dan AsSunnah.

4- Mengakui Yesus Sebagai Tuhan

Diluar  perbedaan  pendapat  di  kalangan  kristiani  sendiri,  tapi  perayaan  Hari  Valentine tetap  bermuatan  ajaran  Kristen.  Dimana  Kristen  sebagai  sebuah  agama,  mengajarkan tentang ajaran trinitas yang menyatakan “Yesus sebagai Anak Tuhan”. Merayakan V-Day secara langsung atau nggak, berarti ikut mengakui ajaran Kristen tersebut.

Dogma bahwa  “Yesus sebagai anak Tuhan” jelas tertolak secara logika apalagi nash AlQur’an  dan Hadits.  Untuk  itu  perlu  ada  ketegasan  sikap  dari  para  pemuja  V-Day, terutama  yang  muslim, bahwa  jika  mereka  masih  aja ngerayain  V-Day, maka  dia  telah berbuat kesyirikan. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya  telah  kafirlah  orang-orang  yang  berkata:  "Sesungguhnya  Allah  ialah  Al  masih putera Maryam", Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah  mengharamkan  kepadanya  surga,  dan  tempatnya  ialah  neraka,  tidaklah  ada  bagi  orangorang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah 72)

Tuh  khan,  dengan  tegas  bin  gamblang  Allah  bakal  menggolongkan  kita  sebagai  orang kafir, kalo kita mengakui Yesus sebagai tuhan. Dan sudah jelas juga bahwa balasan bagi orang yang kafir adalah neraka. Naudzubillah min dzalik.

Valentine merupakan ritual agama Kristen, sehingga Valentine merupakan ibadah bagi agama  Kristen,  bukti  bahwa  Valentine  sebagai  ritual  agama  Kristen  adalah  ritual Valentine  tersebut  dikukuhkan  oleh  seorang  Paus  Galasius  untuk  memperingati  dua orang yang diberi gelar orang suci (santo) oleh orang-orang Kristen.

Bagi seorang muslim mengikuti Valentine sama aja dengan mengikuti peribadatan orang Kristen. Di samping itu ada bahaya yang lain yaitu sinkretisme antara agama Islam dan Kristen. Tahu khan sinkritisme? Kalo belum tahu dan mau dikasih tau, sinkritisme adalah berupa  ajaran/  ide  yang  mengajarkan  bahwa  semua  agama  itu  sama.  Para  penganut sinkritisme (kaum pluralis) menganjurkan agar salah satu agama nggak usah melakukan truth claim  alias klaim kebenaran, karena menurut mereka pada dasarnya semua agama mengajarkan kebenaran. Kayaknya sepintas ide ini manis, tapi perlu kamu ketahui sobat, bahwa sebenarnya ide ini ide iblis.

Ide  truth  claim  dikembangkan  oleh  kaum  pluralis  yang  menginginkan  untuk melenyapkan  truth  claim,  yang  dianggap  sebagai  pemicu  munculnya  ekstrimitas, radikalisme agama, perang atas nama agama, konflik horizontal, penindasan antar umat atas  nama  agama.  Menurut  kaum  pluralis,  konflik  dan  kekerasan  dengan mengatasnamakan agama akan sirna, kalo semua agama/orang mengakui semua agama benar.

Adapun  untuk  merealisasikan  idenya  tersebut,  terbagi  dalam  2  kelompok.  Kelompok pertama,  mereka  yang  menghendaki  dibentuknya  agama  universal  (global  religion) dengan cara menghapus dan mencairkan semua identitas-identitas semua agama untuk dijadikan satu agama global yang harus dianut seluruh umat manusia. Kelompok kedua adalah  mereka  yang  menggagas  kesatuan  dalam  hal  yang  transenden  (unity  of transenden),  artinya  mereka  berpandangan  semua  agama  memiliki  gnosis  yang  sama yakni  menyembah  Tuhan  yang  sama,  meskipun  cara  penyembahannya  berbeda-beda. Sehingga intinya,  kita gak boleh meributkan dan bahkan harus mengakui semua agama dan pemeluknya berhak masuk surga.

Sobat, sebenarnya ide sinkritisme atau truth claim ini berawal dari cara pandang orang Barat tentang kebebasan berpendapat atau beragama (huriyatul aqidah). Secara logika saja, ide  ini  jelas imposible. Bagaimana  mungkin  satu  agama  disuruh  mengakui  agama  lain. Meski  orang  diluar  Islam  pun  pasti  nggak  setuju  untuk  mengakui  agama  lain.  Sebab, memang  orang  beragama  tertentu,  karena  menurutnya  (secara  aqidah)  agama  yang dianutnya  sebagai  agama  yang  benar.  Sehingga  penyatuan  semua  agama  (diambil baiknya  aja)  menjadi  agama  global  jelas  nggak  mungkin  bisa  dan  pemeluknya  nggak akan mungkin rela.

Tapi  disi  lain  Barat  dengan  ide  HAM  dan  demokrasi  sering  bermuka  dua  dalammemandang truth claim ini. Buktinya demokrasi memberikan kebebasan beragama dan berkeyakinan macam agama  Kabalah  yang dianut Madonna atau agama  Scientologi  yang dianut  Tom  Cruise.  Selain  itu,  muncul  banyak  sekte  sesat  yang  menyajikan  bunuh  diri massal  seperti  The  Heavens  Gate  (Gerbang  Surga)  yang  didirikan  oleh  Marshall  Herff Applewhite  dan  Bonnie  “TI”  Lu  Trusdale  Netteles  atau  sekte  Aum  Shinri  Kyo  yang didirikan  pada  1987  oleh  Shoko  Asahara  alias  Chizuo  Matsumoto  di  Jepang  sebagai solusi dalam mengatasi problema hidup mereka. Di negara macam Amrik banyak lahir ajaran agama selain Kristen. Sebut aja ada Klu Klux Klan, ada sektenya Charles Manson yang ngetop di tahun 60-an karena melakukan pembunuhan terhadap sejumlah wanita termasuk seorang aktris terkenal,  ada juga sekte Temple’s People yang dipimpin pendeta Jim Jones, ada nabi yang bernama David Koresh yang kemudian melakukan baku tembak dengan polisi federal AS (FBI), dan terakhir adalah sekte Gerbang Surga yang melakukan aksi bunuh diri massal di tahun 1997. Termasuk di negerinya anak singkong ini. Ada Om Mushadeq, Tante Lia Edan, Gus Roy, dan kroninya yang lain. Mereka ada dan semakin bertahan kalo masih ada ide truth claim.

Katanya  Islam  gak  boleh  truth  claim  tapi  begitu  muncul  aliran  sesat  atau  agama  baru, atau  banyak  orang  melecehkan  nabi  lewat  kartun,  mereka  malah  dibiarkan  aja melakukan  truth  claim.  Apa  itu  gak  standar  ganda  namanya?  Yo  wis,  klo  gak  bisa dikatakan  standar  ganda,  kita  katai  aja  standar  ”Sak  enake  udele  dhewe”.  Orang  yang melakukan tuduhan truth claim atau mereka yang menyamaratakan semua agama, sama aja  mereka  menyamakan  wajah  cool-nya  Nicholas  Saputra  dengan  seekor  kera. Nyambung gak sih?

Allah  telah  memerintahkan  kita  untuk  tidak  mencampuradukkan  ajaran  agama  Islam dengan ajaran agama manapun termasuk Kristen :

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. (QS. Al-Kafirun 1-6)

5- Mengokohkan Penjajahan Barat

Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani,  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian  mereka  adalah  pemimpin  bagi  sebahagian  yang  lain.  Barangsiapa  di  antara  kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya  orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

Pihak Barat memang tidak pernah bosen mengajak ‘perang’ dengan Islam. Perang fisik atau militer itu senjata kuno, mereka sudah memodifikasinya dengan perang pemikiran. Beda  banget  dengan  perang  fisik,  perang  pemikiran  ini  kesannya  halus,  nggak  kerasa, tapi  begitu  tahu  kita  sudah  jadi  korbannya  dengan  pemikiran  dan  tingkah  laku  kita sudah seperti Barat.

V-Day  sudah  diakui  oleh  siapapun  sebenarnya  sebagai  alat  penjajahan Barat.  Dia  telah berhasil  merusak  tatanan  masyarakat  timur  apalagi  Islam,  mengikuti  Valentine  bukan saja  sekedar  pesta  untuk  menyatakan  kasih  sayang,  tetapi  juga  pesta  yang  mau-tidak mau harus mengikutkan budaya yang lainnya, pergaulan bebas, fashion, pakaian minim, ciuman  antara  laki-laki  dan  perempuan  yang  bukan  muhrimnya,  hidup  glamour, materialistis, dansa-dansa, mengumbar nafsu dan lain-lain.

Dengan  semakin  banyaknya  pendukung  V-Day  atau  paling  nggak  dengan  ngototnya remaja kita ngerayakan V-Day, secara nggak langsung kita telah mempopulerkan budaya Barat  yang  bejat.  Hantaman  budaya  barat  itu  semakin  nggak  bisa  kita  tahan,  karena ternyata  institusi  negara  kita  memfasilitasi.  Coba  perhatikan,  dari  cara  gaulnya  remaja kita, diajari dengan tayangan sinetron, musik yang tiap harinya ngebahas tentang cinta melulu.  Sementara  pelajaran  agama  di  sekolah  cuman  dikasih  jatah  2  jam  seminggu. Sehingga  remaja  sebenarnya  lebih  seneng  bersekolah  di  sinetron  remaja,  ketimbang  di sekolah beneran. Akhirnya, impian mereka untuk jadi bintang pun menggebu-gebu. Apa harapannya kalo udah jadi bintang? Udah pasti tajir, terkenal, dipuja sana-sini, mau beli apapun bisa. Termasuk kalo dunia pun bisa dibeli, mereka beli. (nggak segitunya kale..!)

Nggak  cukup  cuman fasilitas  itu.  Negara  pun memperlihatkan  dengan  kentara sebagai kaki  tangan  penjajahan  ide  Barat.  Gimana  nggak?  Kalo  akhirnya  di  negeri  kita  yang penduduk muslim berjumlah 85% lebih, tapi pemerintah berani-beraninya membuatkan ATM  kondom.  Padahal  kita  tahu  banget,  alat  yang  namanya  kondom  dipake  untuk berzina (kalo pemakainya remaja yang belum nikah, atau para penyelingkuh). Dan zina itu  sendiri  dalam  Islam  kagak  boleh  alias  haram.  “Tapi,  negara  kita  khan  bukan  negara Islam?” Ya, emang bukan negara Islam, tapi pak presiden-nya khan orang Islam, menterinya juga banyak orang Islam, yang mau dilayani untuk beli kondom juga orang Islam, trus  apa  Islamnya  cuman  KTP  doang?  Kalo  yang  Islam  cuman  KTP, nggak  salah  dong kalo entar yang masuk surga, KTP-nya. Gejlig!

Belum  lagi,  negeri  kita  berada  di  posisi  kedua  sebagai  negara  paling  porno.  Bangga nggak?  Yee…  itu  mah  bukan  prestasi  tapi  aib  tahu  !?!  Nah,  kalo  bicara  industri  seks negeri  kita  juga  terkenal  di  dunia,  bro!  Itu  tuh,  Gang  Dolly  di  Surabaya  yang  jadi jagoannya.  Yup,  memang  pornografi  dan  industri  seks  secara  sengaja  difasilitasi  oleh negara dengan adanya lokalisasi WTS.

Semua  fasilitas  diatas  secara  langsung  atau  nggak,  memudahkan  untuk  menikmati perayaan V-Day. Cukuplah firman Allah SWT ini sebagai renungan:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.”(QS. Ali Imron 149)

Nah  sobat  muslim,  itu  tadi  seambreg  dalil  yang  jadi  alasan  Islam  untuk  ngelarang  kamu ngerayain V-Day. Bagi seorang muslim, jika Allah dan Rasul-Nya udah menetapkan suatu ketentuan, nggak boleh baginya ragu untuk mengambilnya. Sebagaimana Allah firmankan:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar  Rasul  menghukum  (mengadili)  di  antara  mereka  ialah  ucapan.  "Kami  mendengar,  dan  Kami patuh". Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An Nur 51)

”Dan  tidaklah  patut  bagi  laki-laki  yang  mukmin  dan  tidak  (pula)  bagi  perempuan  yang  mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang
lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS al-Ahzab 36)

Sobat,  nggak  lengkap  rasanya  kalo  Islam  cuman  ngelarang  doang  tapi  nggak  pernah ngasih  solusi  gimana  supaya  peluang  pergaulan  bebas  itu  nggak  pernah  terjadi.  Untuk itulah,  Islam  juga  menyediakan  seperangkat  aturan-aturan  yang  memuat  tentang  etika ketika  bergaul  dengan  lawan  jenis.  Sehingga  celah-celah  yang  bisa  menghantarkan  kita berbuat dosa yang salah satunya adalah karena akibat gaul bebas, bisa kita minimalisir atau bahkan eliminasi sama sekali. Paling nggak ketika kita berhubungan dengan lawan jenis, itu ada batasannya. Tidak sembarangan. Cowok dan cewek boleh-boleh saja bergaul tapi tentu ada rambu-rambu yang harus ditaati bersama. Ada aturan yang harus diketahui barengan. Kapan boleh gaul kapan harus menjauh. 

Dalam pandangan Islam, sebenarnya kehidupan laki dan perempuan itu terpisah. Islam menetapkan  aturan  bahwa  laki  dan  perempuan  itu  terpisah  kehidupannya,  baik  dalam kehidupan umum-di masyarakat, seperti di sekolah, jalan umum, bis, angkot, dan di pasarmaupun dalam kehidupan khusus-di tempat pribadi, seperti rumah atau tempat kost.  Tapi Islam  tidak  kejam  dengan  membiarkan  selamanya  terpisah  seperti  itu.  Ada  saat-saat tertentu yang dibolehkan bagi cowok dan cewek untuk berkumpul dan berinteraksi. Malah dalam beberapa kondisi, pertemuan antara keduanya tidak mungkin dihindari.

Nah,  lalu  kapan  dan  dimana  boleh  bertemu  dengan  lawan  jenis?  Kita  boleh-boleh  saja berkumpul  dan berinteraksi  dengan  lawan jenis  di  tempat  tempat  umum  (tempat  dimana seseorang  tidak  perlu  minta  ijin  untuk  masuk  ke  dalamnya,  seperti  masjid,  sekolah  dsb), dalam aktivitas yang dibolehkan oleh syara. Di pasar misalnya, kita boleh berkumpul dan berinteraksi  dengan  penjual  lain.  Tapi  hanya  sebatas  urusan  jual  beli.  Tidak  boleh  ada embel-embel lain yang keluar dari jual beli.

Kemudian  tempat  lain  yang  dibolehkan  berkumpul  dan  berinteraksi  adalah  dalam belajar-mengajar, dalam urusan pengobatan dan bentuk muamalah lainnya. Tapi meski di tempat-tempat umum itu dibolehkan untuk berkumpul dan berinteraksi, mata kita jangan jelalatan. Tetap harus menjaga pandangan dan juga hal-hal yang bisa menjungkirkan kita ke dalam  jurang  kemaksiatan.  Kalau  untuk  berkumpul  di  tempat  khusus,  seperti  rumah pribadi,  mobil  pribadi,  dan  tempat-tempat  pribadi  lainnya,  maka  yang  perempuan  tidak dibenarkan  untuk  berinteraksi  dengan  lawan  jenis  secara  mutlak  kecuali  bila  disertai mahrom. Misalnya, jika cowok-terpaksa harus berkunjung ke rumah lawan jenis karena ada urusan  yang  sangat  penting  (masalah  dakwah,  misalnya)--,  pastikan  bahwa  temanmu disertai mahromnya, bisa bapaknya atau kakaknya.

Selanjutnya kita harus tahu apa yang semestinya diperhatikan ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Baik laki maupun wanita, bila keluar rumah harus menutup auratnya. Daerah aurat  laki-laki  adalah  sebatas  pusar  sampai  lutut.  Sedangkan  wanita  adalah  seluruh tubuhnya  kecuali  muka  dan  telapak  tangan.  Makanya  untuk  yang  wanita,  diwajibkan memakai pakaian sempurna yang terdiri dari jilbab (pakaian luar) dan kerudung (khimar) sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al Ahzab ayat 59 dan An Nuur ayat 31. Dan jelas konsekuensinya haram bagi wanita yang nekat keluar rumah tanpa busana yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya.

Juga bagi para wanita ada larangan tersendiri dalam urusan ini, yakni jangan bertabaruj/ alias tampil all out atau berlebihan. Yakni dengan memamerkan kecantikan dan perhiasan di  hadapan  laki-laki  yang  bukan  mahrom.  Firman  Allah:  '..dan  janganlah  kamu  bardandan seperti, dandanan perempuan (Jahiliyah) yang dahulu... (QS. AI Ahzab 33). Survei membuktikan bahwa  kebanyakan  malapetaka  pelecehan  seksual  itu  berawal  dari  sikap  tampil  nekatnya para wanita sendiri.

Makanya bagi kamu yang wanita harap hati-hati. Tak perlu seperti burung merak yang suka  pamer  bulu-bulu  indahnya.  Kamu  manusia  yang  punya  akal,  jangan  sampai dandanmu  membuat  klepek  klepek  kaum  Adam.  Khusus  untuk  urusan  busana,  yang wanita tidak usah mengikuti gayanya Claudia Schieffer atau Naomi Campbel yang mahir berlenggak-lenggok  di  atas  cat  walk  dengan  body  dibalut  beberapa  helai  benang.  Apalagi sampai tampil polos, seperti aksi nekatnya Kate Winslet di film  Titanic  dan Demi Moore di film Streptease.

Langkah  berikutnya.  Kamu  harus  menundukan  pandangan  ketika  interaksi  dengan lawan  jenismu.  Maksudnya  adalah  harus  bisa  menahan  diri  dari  pandangan  yang diharamkan.  Yakni  memandang  aurat  atau  kepada  selain  aurat  tapi  dibarengi  dengan syahwat.  Pokoknya  kalau  sudah  bisa  menundukkan  pandangan  alias  ghadhul  bashar  ini, lnsya Allah bisa saling menjaga kesucian dan kehormatan diri.

Kemudian  ketika  kamu  berbicara  dengan  lawan  jenis  harus  diperhatikan  intonasi  dan gaya  bicaranya.  Bagi  wanita,  jangan  sekali-kali  ketika  berinteraksi  dengan  anak  cowok menggunakan  gaya  bicara  yang  mendayu-dayu.  Suaranya  dibuat  merdu  merayu  hingga menyisakan  rasa  penasaran  yang  amat  sangat  bagi  kaum  lelaki.  Firman  Allah:  "Jika  kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lemah lembut (mengucapkan perkataan, nanti orang orang yang dalam hatinya ragu ingin kepadamu. Dan berkatalah dengan perkataan yang balk. "  (QS. Al Ahzab 32).

Masalah yang harus diperhatikan juga adalah, jangan sekali-kali kamu berkhalwat atau berdua duaan (mojok) dengan lawan jenis. Rasulullah SAW. bersabda:  "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat dengan seorang wanita sedangkan wanita  itu  tidak  bersama  mahromnya  Karena  sesungguhnya  yang  ketiga  di  antara  mereka  adalah setan". (HR. Ahmad).

Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya  berkhalwat  (berdua-duaan)  dengan  seorang  wanita,  sedangkan  wanita  itu  tidak  bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (H.R. Ahmad)

Terakhir, sebagai sekedar saran tapi penting juga untuk diterapkan adalah  pelajari Islam, sering hadir di majlis taklim, pengajian sekolah dan bertemanlah dengan anak-anak sholeh di sekolah dan lingkungan tempat tinggalmu. Insya Allah itu akan meredam keinginan kita terhadap aktivitas gaul bebas yang memang berbahaya itu. Firman Allah Swt: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya;  yang  demikian  itu  adalah  lebih  suci  bagi  mereka,  sesungguhnya  Allah  Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS an-Nûr 30).


Sobat, itu tadi sederet aturan yang kudu kamu pake ketika kamu bergaul. Dan peraturan tadi  sifatnya  personal.  Karena  emang  nggak  bisa  seratus  persen  mengandalkan  individu untuk  bisa  menghapus  pergaulan  bebas  di  kehidupan  kita.  Trus  gimana  dong  ?  Ya, Jawabannya adalah negara kudu ikut campur.


Semoga Bermanfaat..

klik: lukyrouf.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar