AHLAN WA SAHLAN

Rabu, 15 Februari 2017

Para pembela dan pemuja V-Day

Para pembela dan pemuja V-Day




Oleh : Luky B Rouf
Creative Writer
Inspirator #YukMoveOn | Pengkader Pendakwah Ideologis
Publishing Manager Al Azhar Press
Kontributor Tabloid Mediua Umat, dakwahremaja.com
Owner D’Walimah Organizer Pernikahan Islami
Chief Operational Officer MoveON Inspiration


Bagian ini  memang  kudu  dibahas, coz  remaja  biar  bisa  berpikir  semakin  jernih  kenapa banyak orang pada ngantre merayakan dan menikmati V-Day, sementara dirinya kayaknya kepincut juga pengin menikmati. Tapi perlu dicatat dan digarisbawahi bahwa bukan berarti ketika  buanyak  orang  ngerayain  V-Day,  trus  akhirnya  V-Day  jadi  benar.  Nggak,  nggak seperti itu.

Pembahasan  ini  cuman  memastikan  aja,  bahwa  remaja  kita  musti  tahu  kalo  dibalik membludaknya penggemar V-Day ada skenario gedhe binti jahat mengintai kita. Skenario itu setidaknya bisa digolongkan menjadi 3.

Pertama: Skenario ekonomi.
V-Day bisa dikatakan memenangi pergulatan opini di tengah pergaulan remaja karena ada 3 P, yakni promosi, provokasi, dan propaganda. Persis sepertisebuah  produk  yang  diiklankan  di  teve,  yang  ditayangkan  secara  kontinyu,  terencana, termanage dengan sangat baik. Kalo perlu memanipulasi fakta, menipu data, bakal meraka lakukan, asal produknya bisa laku dipasaran. Konsumen awalnya mungkin terjadi ambigualias  penolakan  secara  halus,  tapi  berhubung  di  iklankan  tiap  jam,  di  sisi  lain  diberi kemudahan  cara  menikmatinya,  maka  akhirnya  orang  jadi  tertarik  juga  pengin  mencoba. Keinginan  mencobanya  semakin  kuat,  ketika  banyak  orang  yang  ikut menikmatinya. Walhasil,  V-Day  menjadi  suatu  yang  lumrah  untuk  ditiru,  sementara  masalah  moral  dan

Kedua: Skenario politis.
Skenario ini akan mudah dibaca kalo perayaan V-Day dikaitkan dengan  kampanye  kondomisasi,  seperti  apa  yang  sudah  dilakukan  di  Inggris.  Dan  nggak menutup  kemungkinan  di  negerinya  si  Unyil  bakal  dilakoni  juga.  Biasanya  kampanye kondomisasi  ini  dibungkus  dengan  kata  manis  “safe  sex”  alias  sex  yang  aman,  yang biasanya dilakukan oleh LSM. Makanya sampe pemerintah rela untuk menyediakan ATM Kondom.  Menurut  mereka,  nggak  apa-apa  ngelakuin  seks  asal  pake  kondom  biar  aman. Nah, ‘hoby’ nge-seks itu, menemukan momentnya berupa V-Day. Ya, seperti udah dikupas sebelumnya, bahwa memang V-day sudah nggak bisa dilepaskaitkan dengan seks bebas.

Ketiga:  Skenario  budaya. 
Sebagian  orang  mungkin  juga  setuju  kalo  perayaan  V-Day jangan  diisi  dengan  aktivitas  gaul  bebas.  Sebab  budaya  itu  nggak  cocok  dan  nggak manusiawi. Mereka lebih setuju, kalo V-Day dikembalikan sesuai makna aslinya, yakni hari kasih sayang. Intinya, kelompok ini setuju V-Day, tapi nggak setuju gaul bebasnya. Sobat, sepintas  usul  ini  emang  nggak  usil  apalagi  asal.  Tapi  tetap  aja  usul  ini  suatu  hil  yang mustahal, eh..kebalik, maksudnya suatu hal yang mustahil. Gimana bisa kita memisahkan V-Day dengan budaya gaul bebas, lha wong V-Day didesain untuk bikin orang supaya gaul bebas. Apalagi kita hidup di negeri yang sangat sekularistik, yang agama sudah nggak bisa jadi patokan tingkah laku. Standar tingkah laku manusia sekular adalah manfaat atau tidak. Kalo ternyata V-Day bermanfaat, ya diembat. Kalo nggak bermanfaat, ya udah pasti lewat. Tul nggak?

Belajar  dari  skenario-skenario  diatas,  kayaknya  remaja  kita  sangat  sulit  untuk  tidak terjebak  lubang  biawak  yang  bernama  V-Day.  Bukannya  apatis.  Tapi  setidaknya  ini  bisa ngasih  gambaran  ke  kita,  betapa  sangat  derasnya  serangan  Barat  berupa  V-Day  kepada generasi kita. Sementara remaja nggak menyiapkan tameng untuk membendungnya, maka nggak aneh banget kalo jebol juga pertahanan remaja. Ketika ngeliat banyak temannya yang ikut  perayaan  V-Day,  maka  dia  pun  pengin  mencoba.  Awalnya  cuman  mencoba,  tapi akhirnya  keterusan.  Sampe-sampe  kalo  nggak  V-Day,  kayaknya  nggak  hidup.  Walah segitunya !

Tapi kalo mau diraba-raba, paling nggak  ada beberapa faktor yang bikin remaja Muslim ikut  larut  dan  merayakan  V-Day. 

Faktor  Pertama,  kalangan  remaja  Muslim  banyak  yang nggak ngeh ama latar belakang sejarah  Valentine's Day, sehingga mereka tidak merasa risih untuk  mengikutinya.  Faktor  “nggak  ngeh”  nya  bisa  bermacam-macam.  Bisa  karena disembunyikan watak asli oleh para pendongeng V-Day. Bisa juga karena remaja kita udah gelap  mata  alias  cuek  ama  sejarah  V-Day.  Bisa  jadi  karena  sebenarnya  remaja  kita  tahu sejarahnya  tapi  nggak  punya  kemampuan  untuk  mengaitkannya  dengan  informasi  lain, dalam hal ini Islam. Karena emang dalam benak remaja muslim zero persen, pengetahuan agamanya.

Kedua,  adanya  anggapan  bahwa  Valentine's  Day  sama  sekali  nggak  punya  tendensi muatan  agama  sama  sekali.  Menurutnya  V-Day  cuma  bagian  dari  globalisasi  yang  mau nggak mau kudu diserap oleh siapa saja. Sama halnya dengan kemajuan sains dan teknologi yang  semua  orang  akhirnya  ikut  menikmati,  meskipun  awalnya  nggak  suka,  nggak  tahu, atau  bahkan  nggak  mau  tahu.  Sobat,  di  bagian  ini  berarti  teman  remaja  kagak  bisa ngebedain mana yang murni benda (madaniyah  umum) dengan yang bener-bener serangan peradaban  (hadlarah).  Di  pembahasan  sebelumnya,  udah  kita  kupas  masalah  itu.  Tolong dibaca lagi ya !

Ketiga,  kering  kerontangnya  pemahaman  Islam  remaja,  sehingga  tidak  mampu  lagi memfilter  budaya  dan  peradaban  yang  seharusnya  mereka  jadikan  lawan,  mana  yang seharusnya  jadi  kawan.  Padahal  pemahaman  Islam  ini  puenting  buanget.  Sebab  Islam sendiri emang didesain oleh Allah, untuk mensejahterakan manusia. Artinya, ketika Islam ada dalam jiwa remaja muslim, maka sebenarnya perasaan risau kalau nggak ngerayain VDay, nggak akan pernah ada. Malahan, bakal ngajak orang lain untuk ninggalin hajatan VDay. Tapi karena benteng pertahanan terakhir yang kita miliki jebol, maka bablas aja semua budaya  Barat,  ibarat  air  bah  yang  menerjang  semua  benda  yang  ada dihadapannya. Menyedihkan memang !

Keempat,  adanya  loss  of  identity  kalangan  remaja  Muslim.  Salah  satu  fase  remaja  adalah pencarian jati diri. Dalam rangka  itu biasanya dia akan mencari teman, kalo bisa sebanyakbanyaknya. Bahkan  kalo  perlu  bikin  geng.  Maka  apa  yang  menjadi  kesepakatan  temanteman  satu kelompoknya  itulah  yang  jadi  identitas  dia.  Nah,  berhubung  udah  jadi kesepakatan  teman-temannya,  (padahal  dia  sebenarnya  punya  pendapat  beda)  dia  nggak berani  untuk  melawannya,  karena  itu  bertentangan  kesepakatan  jamak  teman-temannya. Disinilah awal terjadinya split personality  alias kepribadian ganda yang menyebabkan teman remaj jadi kehilangan identitas dirinya, atau bahkan nggak punya jati diri.

Kelima, cuman ikut tren aja, biar disebut gaul. Faktor ini nggak kalah gawatnya dengan faktor-faktor sebelumnya. Bisa jadi masalahnya kompleks banget. Jadi di satu sisi, dia nggak punya  pegangan  hidup,  bahasa  kerennya  mungkin  nggak  punya  visi  dan  misi  hidup. Sementara  di  sisi  lain,  dia  nggak  bisa  ‘tahan  nafsu’  untuk  ikut  menikmati  V-Day,  karena emang begitu dahsyat gempuran budaya V-Day ini. Padahal sebenarnya kalo masalahnya cuman  biar  disebut  gaul,  kenapa  nggak  kita  balik  aja,  bahwa  yang  disebut  gaul  itu,  kalo kamu paham Islam. Bisa nggak?

Keenam,  adanya  pergaulan  bebas  yang  mengeliminir  de-sakralisasi  seks.  Banyaknya remaja  pacaran  yang  menjurus  ke  free  seks,  telah  menjadi  bukti  kuat  bahwa  seks  bukan barang yang ‘mahal’ lagi. Seks yang harusnya jadi bahan konsumsi pasangan suami-isteri, kini  tidak  lagi  se-sakral  itu.  Remaja  yang  notabene  bukan  suami  isteri  pun  ikut membicarakan bahkan menikmatinya. Hiihhh ngeri !

Dan  mungkin  masih  banyak  lagi  jawaban  yang  bisa  kita  berikan  tentang  faktor-faktor penyebab remaja jadi gandrung dengan V-Day. Sedikit apa yang sudah kita sampaikan tadi, bisa memberi pemahaman baru kepada kita, bahwa nggak gampang emang untuk melawan budaya  V-Day.  Sampe  ada  yang  mungkin  udah  putus  asa  untuk  mengajak  remaja meninggalkan  V-Day.  Dibalik  sikap  putusasanya  itu,  dibenaknya  mungkin  keluar  bola lampu ide “cling” yang berkata “sulit melarang V-Day, jadi jangan dilarang”.

Sobat,  nggak  sedikit  lho  yang  berpendapat  kayak  gitu.  Contohnya  saya  sempat  dapatdari sebuah millis yang mengungkapkan pendapatnya begini  “Rekan-rekan, valentine adalah trademark nya remaja yang tengah gandrung dengan cinta kasih. Itu adalah sesuatu yang positif asal, penerapannya  sesuai  dengan  sunnah  nabi  dan  'ulama  salafussalih.  Daripada  mengkafirkan  orang, atau rame-rame membid'ahkan ajaran lain, kan lebih baik mempererat tali silaturahim dengan kasih sayang, dan itu sesuai dengan konsep Islam Rahmatallil'alamin……  Oleh sebab itu kita harus dong melakukan pencerahan ditatanan remaja sehingga valentine day bisa di positifkan….”

Masih  banyak  lagi  pendapat  serupa,  berkeliaran  di  dunia  maya.  Tapi  intinya  sama, bahwa mereka setuju kalo remaja nggak usah dilarang merayakan V-Day tapi kembalikan ke  makna  asli  V-Day,  trus  dibungkus  dengan  bungkus  Islamy,  bahasa gaulnya  dilakukan ‘konversi’. Begitchu.

Mereka yang berpendapat kayak gitu pun punya dalih. Apa dalihnya? Dalilnya adalah walisongo. Yup, seperti apa yang pernah mereka lihat di film bahwa Sunan Kalijogo ketika mengajarkan  Islam  di  Indonesia,  menggunakan  wayang  sebagai  ‘alat’.  Nah,  menurut mereka V-Day bisa dibikin kayak gitu, seperti apa yang mereka tulis di millis “toh wali songo pun  tidak  'ujug-ujug' menghapus  ajaran  kapitayan,  tapi dilakukan konversi  kedalam  ajaran islam. Mari  kita  sama-sama  melakukan  Konversi  Valentine  Day  kepada  bentuk  yang  Positif,  sehingga Valentine Day menjadi budaya Remaja yang Islamy.”

Sobat muslim, kita sarankan jangan terkecoh dulu dengan pendapat macam gitu. Karena mungkin ada yang langsung sregep aja menyambut tawaran ide semacam itu. Dipikirnya ini ide brilliant. Padahal ada banyak hal yang musti kita kritisi dari pendapat teman kita ini. Diantaranya:

Pertama,  kata  “jangan  atau  nggak  usah  dilarang”  sebagai  bentuk  keputusasaan  dari perjuangan  melawan  V-day.  Jelas  sifat  putus  asa  bukan  sifat  seorang  muslim  apalagi mukmin. Disamping itu, perjuangan ini belum bisa dibilang maksimal. Apa sih yang udah kita  sumbangkan  untuk  melawan  V-Day?  Yang  ada  kita  malah  ikut  larut  didalamnya. Bukannya negative  thinking,  tapi  kita  bicara  riilnya  aja.  Nggak  banyak khan  remaja  yang sudi  bergabung  bersama  barisan  untuk  melenyapkan  V-Day  dari  pergaulan  remaja  kita? Makanya kata “jangan dilarang”, ketika ada usaha sebagian pihak melawan V-Day, adalah bentuk  provokasi  halus  untuk  melemahkan  perjuangan  anti  V-Day.  Jadi  nggak  usah terkecoh ya ?!
Kedua, membungkus V-Day biar keliatan Islamy, atau mencarikan dalil agar V-Day terasa ada di dalam Islam. Sebenarnya usaha kayak gini udah dilakukan pada yang lain, seperti membikin  ide  teo-demokrasi.  Tapi  sebenarnya  ide  ini  nggak  lebih  mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan. Membungkus V-Day dengan Islam hanya akan menjadi deretan pembenaran atas sebuah kesalahan atau keburukan. Kalo emang ada V-Day islamy, bisa jadi  nanti  akan  ada  babi  islami,  pelacur  islami,  de  el  el.  Padahal  udah jelas-jelas babi diharamkan  dalam  Islam.  Jadi  kalo  masih  ada  yang  ngoceh  “bikin  V-Day  jadi  positif  dan penerapannya  sesuai  dengan  sunnah  nabi  dan  'ulama  salafussalih”  itu  adalah  omong kosong. Mana bisa V-Day yang notabene ajaran kebatilan, diterapkan dengan cara sunnah nabi? Sunah nabi yang mana, Mas? Mencampuradukkan Islam dengan V-Day sama halnya menyatukan  racun  dengan  madu  dalam  satu  gelas.  Meski  dikasih  label  madu,  tetep  aja didalamnya ada racun, dan hanya orang yang kurang waras mau menyantapnya.

Ketiga, “Daripada mengkafirkan orang, atau rame-rame membid'ahkan ajaran lain kan lebih baik mempererat  tali  silaturahim  dengan  kasih  sayang,  dan  itu  sesuai  dengan  konsep  Islam Rahmatallil'alamin”.  Kalo  ada  tuduhan  menyudutkan  Islam  nggak  toleran  misalnya, biasanya  kita  yang  muslim  udah  menyiapkan  tameng  membela  diri  dan  berkompromi dengan para penuduh itu, dan mengatakan “ah, islam itu sangat toleran koq”. Yang begini ini diistilahkan  defensive apologetic. Nah, kayaknya itu berlaku juga buat V-Day. Ketika ada yang bilang kalo ajaran V-Day itu bertentangan dengan Islam, karena sama aja mengikuti ajaran orang kafir, dan nggak ada tuntunannya dalam Islam alias bid’ah. Maka para pembela V-Day udah menyiapkan jawaban  defensive apologetic-nya dengan mengatakan “nggak usah begitu, Islam itu khan ajaran yang rahmatan lil ‘alamin berarti senafas dengan V-Day yang mengajarkan  kasih  sayang”.  Well,  sekali  lagi  ini  hanya  sebuah  pembelaan  atas  sebuah kebatilan. Selamanya kebatilan, dibela siapa saja, didukung dengan dana berapapun, nggak akan pernah menang.

Keempat,  tentang  dakwah  Wali  Songo.  Sejarah  tentang  dakwah  wali  songo  musti ditanyakan validitasnya. Ini penting banget lho sobat, karena emang seringkali dakwah wali songo dijadikan dalih untuk menerima adat kebiasaan menjadi suatu yang islamy. Makanya kita perlu  mengajak bersama-sama berpikir: jangan-jangan, para penulis sejarah—termasuk dari  kalangan  Muslim  sendiri—mengalami  bias  dalam  merekam  peristiwa-peristiwa  di masa itu. Mereka bisa mengalami bias kepentingan, karena seorang penulis pengin menulis sejarah  sebagai  lebih  baik  dari  pendahulunya.  Bias  juga  bisa  muncul  akibat  kesulitan menyeleksi sumber data—yang dalam ilmu sejarah adalah periwayatan. Semakin jauh jarak waktu  antara  peristiwa  dan  sejarahwan,  semakin  luas  daerah  yang  akan  ditulis,  dan semakin banyak orang yang terlibat, akan semakin sulit untuk dipilih mana riwayat yang akurat dan mana yang tidak. Jangankan menulis seluruh peristiwa di masa itu (yang belum tentu  saat  peristiwa  terjadi,  langsung  ada  yang  menulisnya)  pada  zaman  modern  saja, dengan alat-alat komunikasi yang sangat canggih, berita tentang seorang selebriti saja bisa sangat bias.

Film  Wali  Songo,  Sunan  kalijogo,  Syekh  Siti  Jenar,  nggak  bisa  jadi  bukti  sejarah  juga, karena emang sejarah nggak bisa dijadikan dalil. Di sisi lain, kalo emang dongeng itu benar, anggap aja itu penyimpangan sejarah Islam, artinya ya nggak perlu dan nggak bisa ditiru. Karena menurut An-Nabhani dalam kitab  An-Nidham Al-Islam, bahwa sejarah bukan dalil syariat.  Sehingga  kalo  didapati  dalam  dongeng  tadi  ada  peristiwa  Sunan  Kali  Jogo mengajarkan Islam dengan membiarkan pake sesaji atau menggunakan wayang, itu bukan dan nggak bisa dijadikan dalil syariat. Paham !?

Ok  guyz,  mengkonversi  hajatan  V-Day  dengan  Islam  nggak  bisa  menemukan  titik temunya sama sekali. Malah-malah bikin Islam rusak, bikin kabur ajaran Islam, dan bikin kita semua sepakat untuk ketawa geli, karena kamu sembunyikan dimanapun, dengan cara apapun, yang namanya V-Day, udah ketahuan belangnya. Setuju ?!

Tapi ngomong-ngomong masih ada teman kita yang bandel banget membela V-Day lho, coba perhatikan  “menurut aku hari valentine sama spt hari ibu atau hallowen, itu smua trsh kita bgmn kita menyikapinya. Saya rasa ga  salah kita ngrayain hari tsb, mungkin orang menganggapnya sbg simbol, bahwasanya di hari tsb kasih sayang diiwujudkan dg berbagai pernak pernik mis. coklat, bunga, dsb. ok, gini2, misal aku ngomparasiin hari valentine dg hari ibu. bukankah hari untuk ibu ngga  harus  kita  rayain  hanya  pd  tgl  itu  saja?  dg  menggantikan  pekerjaan  ibu,  seharian  ibu  tidak memasak,  dll.  Istilahnya  menjadikan  ibu  sbg  “ratu  sehari”.  Kenapa  kita  ngga  pernah mempermasalahkan  hal  ini?  kenapa  cuma  hari  itu  aja?”…...  Manusia  berhak  untuk  menyatakan pendapat,  tapi  tidaklah  bijak  menghakimi  bahwasanya  sesuatu  itu  benar/salah.  Tuhanlah  yang menilai..”

Awas  lho  sobat,  nggak  usah  termakan  ama  opini  teman  kita  ini.  Sekali  lagi  perlu  kita kritisi  pernyataan  dia.  Hem,  hari  valentine  disamakan  dengan  hari  ibu?  Bisa  jadi,  kalo emang  ada  bukti  kuat  bahwa  telah  terjadi  penyimpangan  dalam  sejarah  bermulanya  hari ibu, maka bagi kita yang muslim, nggak boleh juga merayakan hari ibu. Kalo emang udah tahu hari ibu atau hari kasih sayang nggak perlu moment,  ngapain kita musti ribut pesta hari  ibu  atau  hari  valentine?  Apa?  Perlu  simbol?  Kalo  kasih  sayang  perlu  simbol,  malah orang sibuk mikirin simbolnya, lupa ama makna kasih sayang-nya yang harusnya tiap hari kita berkasih sayang. Lagian kalo perlu simbol, dan kamu juga tahu kalo kasih sayang musti tiap  hari,  mau  nggak  menyediakan  hadiah,  merchandise,  kasih  sayang  tiap  hari?  Kasih sayang  kadangkala  emang  butuh  simbol,  tapi  nggak  harus  khan?  Justru  kalo  tiap  kasih sayang butuh simbol (baca: benda), maka itu namanya cinta matre. Ke laut aja deh !

Satu  lagi  sobat  mengomentari  pernyataan  teman  kita  tadi,  dia  bilang  “Manusia  berhak untuk  menyatakan  pendapat,  tapi  tidaklah  bijak  menghakimi  bahwasanya  sesuatu  itu  benar/salah. Tuhanlah  yang  menilai..”.  Ya  emang  benar  kita  diperbolehkan  berpendapat,  tapi  mbok  ya pendapatnya nggak usah yang aneh-aneh, apalagi bertentangan dengan syariat Islam. Kita bisa mengatakan seseorang atau sesuatu itu benar atau salah, karena udah ada yang ngasih tahu bahwa itu benar atau salah. Siapa yang ngasih tahu kita? Ya, kalo orang Islam mah, AlQur’an  dan  al-Hadits,  yang  disampaikan  melalui  lisannya  Muhammad  Saw  yang  diutus sebagai Rasulullah. Al-Qur’an dan Hadits ibarat peta kehidupan seorang muslim, siapa saja yang ngikuti pasti nggak bakal tersesat.

Lagian kita harus menilai sesuatu itu benar atau salah, sebab emang di dunia ini khan ada hitam ada putih, ada baik ada buruk, kalo ada yang bener pasti ada yang salah. Dan di akhirat cuman ada surga dan neraka. Tapi yang punya hak menentukan benar atau salah cuma  Allah  SWT,  dan  sekali  lagi  Allah  SWT  khan  udah  mengutus  Rasul-Nya  yang membawa  Risalah.  Risalah-Nya  disiapkan  untuk  manusia  dan  seluruh  alam  ini.  Gitu, Paham !

Gimana udah makin paham dan nggak ada yang berani bikin ribut soal ketidakbolehan V-Day khan? Apa !!! Masih ada? Waduh, bener-bener nggak kapok bikin dosa neh orang. Baiklah, tinggal satu ini kita ladeni aja. Doi bilang begini  “klo kata gw sih boleh juga Freesex islamy, mut'ah juga bisa dikatakan freesex islami. cuma masalahnya ada yang mau gak?? …. tinggal di legalkan saja, asal jelas kontribusinya buat ummat.., justru dengan kita bisa melakukan sex dengan optimal, pikiran kita bisa fresh, makanya orang2 barat pada cerdas, ya karena kebutuhan dasarnya terpenuhi tidak seperti kita...”

Wah,  kalo  yang  ini  mah  bukan  bandel  lagi,  tapi  udah  keseleo  kali  otaknya.  Tolong bedakan  antara  “seks”  dengan  “free  seks”  Islamy.  Kalo  free  seks  islamy  mana  ada?  Kalo seks islamy memang ada, yakni yang dilakuin suami isteri atas pernikahan yang sah. Ada seorang teman pernah cerita, bahwa ada seorang WTS yang ditanyain  “mbak, setuju nggak dengan free seks?”. Si pelacur itu menjawab  “wah, ya nggak setuju dong, mas?”. Lho koq?  “Iya, profesi kita khan WTS alias pekerja seks, sedangkan free seks itu khan maksudnya seks yang bebas. Kita ini pekerja, tapi koq nggak dibayar. Jelas nggak mau dong” Gubrakz!

Melakukan  seks  optimal  bisa  bikin  fresh  otak?  Ah,  ngibul  banget  neh  orang.  Kentara sekali  orang  yang  kayak  gini  penganut  freudisme.  Sigmund  Freud  seorang  psikolog  Barat yang  meletakkan  kebutuhan  akan  seks  sebagai  kebutuhan  pokok,  layaknya  makan  dan minum. Jadi menurut doi, kalo nggak nge-seks manusia bakalan mati. Para pengikut ide ini disebut Freudisme. Jelas ini pendapat yang ngawur dan nggak pernah terbukti.  Nggak ada ceritanya orang nggak kawin, trus kemudian dia mati. Ini mengada-ada.

Nggak matching banget kecerdasan dihubungkan dengan seks. Kalo pun ada orang Barat yang cerdas, kita yakin pasti bukan karena seks. Tapi salah satu faktornya karena di Barat banyak  fasilitas  yang  bikin  orang  cerdas,  yang  nggak  dimiliki  ama  orang  disini.  Lagian siapa  bilang  orang  cerdas  karena  seks.  Di  Barat  malah  justru  kriminalitas  seksual menduduki peringkat atas sebagai penyumbang kerusakan di Barat. Akur ?!

Ok  sobat,  itu  tadi  pendapat  teman-teman  kamu  yang  saya  dapatkan  di  milis  sebelah. Moga aja nggak ada yang bikin masalah lagi soal V-Day. Bukannya takut untuk menjawab tantangan mereka. Tapi kayaknya, mereka nggak kehabisan akal, untuk terus mencari-cari alasan biar aktivitas mereka ngerayain V-Day, jadi legal. Dan apapun alasan mereka, tetep Islam punya jawabannya, serta udah pasti bisa mematahkan argument mereka. 


Walhasil, sepanjang apapun alasan kamu, segetol apapun pembelaan kamu, nggak akan pernah  bisa  membuat  V-Day  jadi  halal.  Stop,  berhentilah  membela  V-Day.  Yuk  udah saatnya Islam jadi pegangan hidup kita. Yuk ya Yuk!


Barakallah.. Semoga Bermanfaat..

klik: lukyrouf.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar